PANIAI, YAMENADI.COM – Momentum Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 2026 menjadi panggung perlawanan bagi kaum perempuan di Tanah Papua. Tokoh perempuan Papua, Sayang Mandena Bayang, yang menjabat sebagai Ketua Front Nasional Rakyat Nusantara Papua Bersatu (FNRNPB) sekaligus Front Nasional Mahasiswa Pemuda Papua, secara tegas menyuarakan dukungan penuh terhadap masyarakat adat Biak.
Membawa jargon "Perempuan Bersatu Lawan Oligarki," Sayang Mandena Bayang menegaskan bahwa solidaritas perempuan adalah pilar utama dalam menjaga kedaulatan tanah adat dari ancaman eksploitasi dan militerisme.
Empat Tuntutan Utama :
Dalam pernyataan resminya, terdapat empat poin krusial yang ditegaskan untuk menyikapi situasi di Pulau Biak:
- Penolakan Bandara Antariksa: Menolak dengan tegas rencana pembangunan Bandara Antariksa di Biak yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat.
- Penolakan Pangkalan Militer: Menolak pembangunan pangkalan militer Indonesia di wilayah Biak demi menjaga kedamaian dan keamanan warga sipil.
- Intervensi HAM Internasional: Meminta Komisi HAM PBB untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta guna memantau situasi kemanusiaan di Papua secara langsung.
- Penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN): Mendesak Pemerintah Indonesia untuk menghentikan seluruh proyek strategis nasional di Biak yang tidak berpihak pada rakyat.
"Biak bukan pulau kosong. Biak milik masyarakat adat Biak. Kami berdiri bersama mereka karena perempuan yang bersatu tidak akan pernah bisa dikalahkan," tegas Sayang Mandena Bayang dalam pernyataannya, dipetik awak media yamenadi.com Selasa (10/03).


