NABIRE, YAMENADI.COM – Manajemen Markas Pusat KOMNAS Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim telah terjadi kontak senjata antara pasukannya dan aparat militer Indonesia di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Minggu (1/3/2026) sekitar pukul 12.00 WIT.
Dalam siaran pers yang diterima media ini pada Senin (2/3/2026), Juru Bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom, menyebut seorang aparat militer Indonesia atas nama Pratu Mulyado mengalami luka tembak dalam insiden tersebut. Ia mengklaim aparat militer Indonesia mengerahkan dua unit helikopter militer dalam operasi tersebut.
Menurut keterangan TPNPB, kontak senjata terjadi saat aparat militer melakukan operasi menggunakan dukungan tembakan dari udara, sementara pasukan TPNPB membalas dari darat. TPNPB juga mengklaim dua unit helikopter militer mengalami kebocoran akibat tembakan balasan dari pasukannya.
Selain itu, TPNPB menyatakan sejumlah logistik milik pasukannya dirampas oleh aparat militer Indonesia, termasuk telepon genggam. Hingga saat ini, kedua belah pihak disebut masih dalam status siaga di wilayah Nabire.
TPNPB juga melaporkan dugaan penangkapan terhadap dua warga sipil di depan Hotel Adaman Wadio pada 28 Februari 2026. Dalam keterangannya, kedua warga tersebut disebut mengalami pemukulan dan penyiksaan hingga tak sadarkan diri, dan keberadaannya belum diketahui. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Lebih lanjut, TPNPB menyebut aparat militer yang mengalami luka tembak telah dievakuasi menggunakan helikopter jenis Bell Helicopter dari Nabire menuju Timika untuk mendapatkan perawatan medis.
Dalam pernyataannya, TPNPB meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan penggunaan senjata berat dalam operasi militer di Papua. Mereka juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah Internasional untuk memberikan perhatian terhadap dampak konflik bersenjata terhadap warga sipil di Tanah Papua serta membuka akses bagi jurnalis asing dan independen.
(Yamenadi.com)


