Di tanah Mee Pago, mama berdiri,
dengan air mata yang jatuh ke bumi,
bukan membawa kebencian,
hanya membawa suara hati.
“Tolong, jangan bunuh kami,
jangan rampas nyawa anak-anak kami,
jangan ambil tanah dan hutan kami,
jangan habiskan sumber daya Papua kami.”
Enam puluh empat tahun telah berlalu,
sejak Perjanjian New York menjadi sejarah,
namun suara Papua masih bertanya:
di mana kami dalam keputusan itu?
Tanah ini bukan sekadar peta,
hutan bukan sekadar kayu,
laut bukan sekadar kekayaan,
Papua adalah rumah,
tempat anak-anak kami bermimpi.
Hari ini suara itu bergema,
dari Pasar Karang hingga tanah Mee Pago,
dari kota-kota hingga lembah dan gunung:
Papua ingin hidup,
Papua ingin damai,
Papua ingin didengar.
Mama Papua tidak meminta perang,
mama Papua meminta kehidupan.
Tidak meminta air mata,
tetapi masa depan bagi anak-anaknya.
Jika sejarah telah meninggalkan luka,
jangan tambahkan luka dengan kekerasan.
Biarkan keadilan menjadi jalan,
biarkan dialog menjadi jembatan,
dan biarkan Papua berbicara
tentang masa depannya sendiri.
Dari Tanah Mee Pago kami berseru:
jangan bunuh anak Papua,
jangan rampas tanah Papua,
jangan hancurkan rumah kami.
Papua bukan hanya tanah yang kaya,
Papua adalah manusia yang harus dihormati.
— Suara Mama Papua dari Tanah Mee Pago
New York Agreement - Aksi Nasional KNPB
15 Agustus 1962- 2026.
Nabire, 15/08/2026.



0 Comments