-->
  • Jelajahi

    Copyright © YAMENADI.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Pengikut

    Iklan

    ULMWP Serukan Doa Kerahiman Ilahi Setiap Pukul 15.00 untuk Pemulihan Bangsa Papua

    Redaksi yamenadi.com
    Sabtu, 07 Maret 2026, Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T23:34:34Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    JAYAPURA, YAMENADI.COM – Pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menyerukan kepada seluruh rakyat Papua di dalam negeri maupun di luar negeri untuk bersatu dalam Doa Kerahiman Ilahi setiap hari pada pukul 15.00 (jam tiga sore). Seruan ini disampaikan sebagai jalan spiritual untuk membangun harapan serta pemulihan bagi masa depan bangsa Papua di tengah berbagai krisis yang masih berlangsung.


    Seruan ini tertuang dalam dokumen resmi bernomor 0075/P-039/A-24/ULMWP/EC-1/III/2026 yang dikeluarkan di Jayapura pada 6 Maret 2026. Dokumen ini ditandatangani oleh Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni, dan Sekretaris Eksekutif Markus Haluk.


    Dalam seruan tersebut, pimpinan ULMWP menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat West Papua, baik yang berada di Tanah Papua maupun yang tersebar di berbagai negara, termasuk para pejuang yang masih berada di medan gerilya, tokoh gereja, pemuka adat, organisasi masyarakat sipil, serta jaringan solidaritas internasional.


    “Mari setiap hari pukul 15.00 (jam tiga sore) kita berdoa membenamkan seluruh penderitaan dan perjuangan bangsa Papua kepada Kerahiman Tuhan,” demikian isi seruan tersebut.


    ULMWP menilai bahwa doa bersama merupakan bentuk pengakuan iman bahwa perjuangan manusia tidak akan cukup tanpa penyertaan dan kasih karunia Tuhan.


    Situasi Dunia yang Tidak Stabil


    Dalam pernyataan tersebut, pimpinan ULMWP juga menyoroti situasi global yang dinilai semakin tidak stabil akibat berbagai konflik bersenjata di sejumlah kawasan dunia.


    Mereka menyebut konflik antara Rusia dan Ukraina serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sebagai contoh situasi yang memicu kekhawatiran dunia.


    “Kita menyaksikan dengan prihatin pecahnya konflik bersenjata di berbagai belahan dunia. Peperangan ini telah memakan banyak korban jiwa dan kita tidak dapat memprediksi kapan semua ini akan berakhir,” tulis pimpinan ULMWP dalam seruan tersebut.


    ULMWP juga menilai bahwa konflik global tersebut berdampak pada ketidakstabilan ekonomi dan kemanusiaan di berbagai negara.


    “Dunia kini berada di ambang kehancuran kemanusiaan, terancam oleh bahaya kelaparan dan berbagai bencana kemanusiaan lainnya. Kita seakan-akan berada di ujung Perang Dunia Ketiga,” demikian isi pernyataan itu.


    Papua Dinilai Masih Mengalami Krisis


    Di tengah situasi global tersebut, ULMWP menyatakan bahwa kondisi di Papua juga masih diliputi berbagai persoalan serius.


    “Papua saat ini tidak baik-baik saja. Eksistensi kehidupan berbangsa di Tanah Papua sedang terancam,” tulis ULMWP dalam seruannya.


    Menurut mereka, pengerahan aparat keamanan oleh pemerintah Indonesia masih terus berlangsung di sejumlah wilayah Papua. Dalam dokumen tersebut disebutkan jumlah personel keamanan mencapai sekitar 83.177 orang, yang terdiri dari 56.517 personel TNI dan 26.660 personel Polri.


    ULMWP menilai jumlah tersebut tidak seimbang dengan jumlah penduduk Papua.


    Selain itu, konflik bersenjata di sejumlah wilayah disebut masih memicu gelombang pengungsian warga sipil.


    “Memasuki pertengahan Maret 2026, tercatat sekitar 103.218 orang masih berada dalam status pengungsian akibat konflik bersenjata di berbagai wilayah Papua,” tulis pernyataan tersebut.


    Wilayah yang disebut terdampak konflik dan pengungsian antara lain Intan Jaya, Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Maybrat, Lanny Jaya, Puncak, Puncak Jaya, dan Timika.


    Ancaman Kerusakan Lingkungan


    Selain konflik kemanusiaan, ULMWP juga menyoroti ancaman kerusakan lingkungan di Papua.


    Dalam seruan tersebut disebutkan bahwa hutan di Pulau Nugini merupakan salah satu kawasan hutan tropis terbesar di dunia setelah Amazon di Brasil dan hutan Kongo di Afrika.


    Namun berbagai aktivitas ekonomi disebut telah menyebabkan kerusakan hutan dalam skala besar.


    Investasi pertambangan, perkebunan kelapa sawit, proyek strategis nasional, serta praktik illegal logging telah membabat habis sekitar 13 hingga 15 juta hektar hutan di West Papua,” tulis ULMWP.


    Refleksi 62 Tahun Perjuangan


    Pimpinan ULMWP juga mengajak rakyat Papua untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan panjang perjuangan politik bangsa Papua yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade.


    “Selama 62 tahun perjalanan panjang perjuangan bangsa Papua, kita harus belajar dari pengalaman. Sering kali kita sebagai pejuang lalai untuk mengakui Tuhan sebagai pemilik sah atas perjuangan ini,” tulis mereka.


    Menurut ULMWP, berbagai konflik internal, perpecahan, dan saling menyalahkan di antara kelompok perjuangan juga menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi.


    Karena itu, mereka mengajak seluruh rakyat Papua untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat dan pemimpin perjuangan.


    “Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Papua untuk menjadikan Tuhan sebagai Panglima dan Pemimpin Perjuangan Papua Merdeka,” demikian isi seruan tersebut.


    Doa Sebagai Jalan Pemulihan


    ULMWP menegaskan bahwa Doa Kerahiman Ilahi bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi merupakan jalan spiritual untuk menyembuhkan luka kolektif masyarakat Papua akibat konflik yang berkepanjangan.


    Menurut mereka, doa dapat menjadi sarana untuk membangun perdamaian sejati, memulihkan trauma masyarakat, memperkuat semangat pengampunan, serta membangun kembali hubungan antar manusia dan dengan alam.


    “Doa bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari aksi nyata untuk membela keadilan dan mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan,” tulis pimpinan ULMWP.


    Melalui seruan ini, pimpinan ULMWP berharap seluruh rakyat Papua di berbagai belahan dunia dapat bersatu dalam doa setiap hari pukul 15.00 sebagai bentuk iman dan harapan bagi masa depan bangsa Papua.


    Seruan tersebut ditutup dengan pesan spiritual yang menegaskan keyakinan mereka.


    “Yesus Engkau Andalanku, Andalan Bangsa Papua,” demikian penutup pernyataan Presiden ULMWP : Menase Tabuni - Sekretaris: Markus Haluk.


    [YAMENADI.COM]


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Berita Papua

    +