By: Patianus Momiake, Pengamat Lokal Timur
Sejarah kolonialisme sering dipahami sebagai dominasi bangsa asing terhadap suatu wilayah. Dalam konteks Indonesia, narasi resmi menempatkan penjajahan sebagai praktik yang dilakukan oleh kekuatan Eropa seperti VOC dan pemerintah kolonial Belanda. Namun dalam dinamika sosial-politik modern, muncul fenomena yang lebih kompleks: penindasan terhadap masyarakat lokal tidak selalu datang dari kekuatan eksternal, tetapi juga dapat muncul dari elite lokal yang berkolaborasi dengan struktur kekuasaan negara.
1. Kolonialisme Klasik dan Pola Kekuasaan
Pada masa kejayaan VOC pada abad ke-17 hingga ke-18, praktik kolonial tidak hanya dilakukan oleh pedagang Belanda. Sistem kekuasaan kolonial sering memanfaatkan elite lokal sebagai perantara untuk mengendalikan masyarakat. Para penguasa lokal diberi posisi, kekayaan, atau kekuasaan administratif, sementara rakyat tetap berada dalam kondisi eksploitasi. Pola ini dikenal dalam ilmu sosial sebagai kolonialisme tidak langsung (indirect rule). Model kekuasaan seperti ini memungkinkan penjajah mempertahankan kontrol tanpa selalu hadir secara langsung. Elite lokal yang diuntungkan sering menjadi bagian dari sistem tersebut.
2. Reproduksi Pola Kolonial di Era Modern
Dalam beberapa kasus kontemporer di Papua, sebagian kritik sosial menyoroti fenomena serupa. Penindasan terhadap Orang Asli Papua (OAP) tidak hanya dipersepsikan berasal dari kebijakan negara, tetapi juga dari elite lokal yang terlibat dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan. Ketika sumber daya, bantuan sosial, atau dana pembangunan tidak sampai kepada masyarakat yang membutuhkan, muncul persepsi bahwa elite lokal telah menjadi bagian dari struktur penindasan itu sendiri. Dalam situasi ini, masyarakat melihat bahwa kolonialisme bukan lagi sekadar hubungan antara pusat dan daerah, tetapi juga hubungan antara elite dan rakyat.
3. Politik Menyalahkan Struktur
Fenomena lain yang sering muncul adalah kecenderungan elite untuk menyalahkan negara sebagai aktor tunggal. Dalam wacana publik, kegagalan kebijakan sering dijelaskan sebagai “perintah dari pusat.” Namun pada saat yang sama, terdapat aktor lokal yang ikut menikmati manfaat dari sistem tersebut. Dalam perspektif sosiologi politik, kondisi ini dapat disebut sebagai oligarki lokal, yaitu situasi di mana sekelompok kecil elite mengendalikan sumber daya ekonomi dan politik. Mereka dapat berfungsi sebagai mediator antara negara dan masyarakat, tetapi juga berpotensi menyalahgunakan posisi tersebut.
4. Sejarah dan Ketakutan terhadap Narasi Alternatif
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah mengapa narasi sejarah tertentu jarang dibahas secara terbuka. Dalam banyak negara, sejarah nasional sering ditulis untuk memperkuat identitas dan legitimasi negara. Oleh karena itu, perspektif yang berbeda termasuk kritik terhadap elite lokal kadang tidak mendapat ruang luas dalam wacana resmi. Padahal dalam kajian sejarah modern, pemahaman yang kritis terhadap masa lalu justru penting untuk membangun masyarakat yang lebih adil. Pengetahuan sejarah yang jujur memungkinkan masyarakat memahami bagaimana struktur kekuasaan bekerja, baik pada masa kolonial maupun pada masa negara modern.
5. Kesadaran Kritis Masyarakat
Kesadaran terhadap struktur kekuasaan menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak pada narasi yang sederhana. Penindasan sosial tidak selalu berasal dari satu pihak saja; sering kali ia merupakan hasil interaksi antara kekuasaan negara, elite lokal, dan sistem ekonomi-politik yang lebih luas. Dalam konteks ini, muncul gagasan bahwa masyarakat yang memahami sejarah secara kritis akan memiliki kemampuan berpikir lebih mandiri. Pemahaman tersebut membantu masyarakat melihat bahwa perubahan tidak hanya bergantung pada negara, tetapi juga pada integritas para pemimpin lokal.
Sebuah refleksi yang sering dikutip dari Timothy Ronald menekankan pentingnya kesadaran kritis masyarakat: “Orang yang memahami sejarah dan cara kerja kekuasaan biasanya berpikir lebih tajam dibanding mereka yang hanya menerima narasi tanpa mempertanyakannya.”
Dekai, 14 Maret 2026
"Tulisan ini sepenuhnya bertanggung jawab oleh penulis...!!!"


