-->
  • Jelajahi

    Copyright © YAMENADI.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Pengikut

    Iklan

    MIKU WUKA, S.SN Koteka di Panggung WISUDA: Koteka Bukan Simbol Ketelanjangan, Tapi Martabat

    Redaksi Yamenadi
    Jumat, 31 Oktober 2025, Oktober 31, 2025 WIB Last Updated 2025-11-01T00:42:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     

    Miku Wuka,S.Si (istimewa)

    Di tengah hiruk pikuk toga, jas hitam, dan dasi yang berkilau, seorang mahasiswa asal pegunungan tengah Papua melangkah mantap ke panggung wisuda. Namanya Miki Wuka, S.SN mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua. Namun, yang membuat langkahnya menggema bukanlah ijazah di tangannya, melainkan pakaian yang ia kenakan holim, atau yang lebih dikenal sebagai koteka.

    Dalam sekejap, momen itu menggetarkan ruang akademik dan menembus batas-batas pikiran yang selama ini membungkus kata “modern”. Sebab, di tengah dunia yang memuja jas dan dasi sebagai simbol kemajuan, Miki tampil dengan kebanggaan pada akar identitasnya. Ia hadir sebagai perwujudan keberanian seorang anak adat yang menolak tunduk pada standar yang tidak tumbuh dari tanahnya sendiri.

    Holim bukan sekadar pakaian. Ia adalah bahasa tubuh dari budaya yang telah hidup jauh sebelum kata “peradaban” dipinjam dari kamus dunia Barat. Bagi masyarakat pegunungan tengah Papua Lapago dan Meepago holim adalah simbol martabat, kesederhanaan, dan kejujuran. Namun sayangnya, dalam perjalanan panjang kolonialisme budaya dan politik, holim pernah direduksi menjadi bahan ejekan, dianggap telanjang, bahkan dipakai untuk menjustifikasi label “terbelakang”.

    Keberanian Miki Wuka memakainya di panggung akademik bukanlah tindakan spontan, melainkan bentuk perlawanan kultural yang sadar dan bermakna. Ia menantang cara pandang dunia luar yang selama ini meminggirkan kebudayaan asli Papua. Dalam langkahnya, ada pesan kuat: bahwa menjadi sarjana bukan berarti melepaskan identitas, melainkan mengangkatnya agar sejajar dengan nilai-nilai universal kemanusiaan.

    Wisuda dengan koteka adalah simbol lahirnya generasi baru Papua generasi yang tidak minder terhadap tradisi, tetapi juga tidak menolak ilmu modern. Miki menunjukkan bahwa kemajuan tidak berarti meninggalkan akar, dan pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan kesadaran untuk mengenali diri sendiri.

    Ketika banyak anak muda Papua berjuang menemukan jati diri di tengah arus globalisasi, Miki Wuka memberi teladan: bahwa menjadi Papua bukanlah beban, melainkan kebanggaan. Ia menegaskan bahwa budaya bukan sesuatu yang harus disembunyikan di balik modernitas, tapi harus dibawa ke panggung dunia dengan kepala tegak dan hati merdeka.

    Langkah Miki di panggung wisuda bukan sekadar upacara akademik, melainkan manifesto kultural. Dari tanah yang dulu disebut “terpencil”, kini lahir suara yang menggema hingga ruang intelektual suara yang berkata dengan lantang:

    “Aku Papua, dan aku bangga dengan kulit, bahasa, dan pakaian adatku.”

    Di saat dunia terus bergerak menuju keseragaman, keberanian seperti ini adalah napas segar pengingat bahwa keindahan sejati justru lahir dari keberagaman. (Derek Kobepa) 

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Berita Papua

    +