Nabire, YAMENADI.COM – Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Papua Tengah, khususnya wilayah Nabire, mengeluarkan himbauan terbuka kepada berbagai elemen masyarakat untuk menghadiri diskusi dan konsolidasi mobilisasi massa tahap kedua menjelang aksi nasional pada 7 April 2026.
Undangan tersebut ditujukan kepada pelajar, mahasiswa, buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota, aktivis, pemuda, mama-mama pasar, masyarakat Orang Asli Papua (OAP), masyarakat non-OAP, serta tokoh agama, pemerintah, adat, dan perempuan.
Kegiatan diskusi dan konsolidasi ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 31 Maret 2026, bertempat di Asrama Intan Jaya, Jalan Mandala Kalibobo, Nabire, Papua Tengah, mulai pukul 15.00 WIT hingga selesai.
Menjelang Aksi Nasional 7 April 2026
Pertemuan ini digelar sebagai bagian dari persiapan menuju seruan aksi nasional memperingati 59 tahun kehadiran PT Freeport Indonesia di Tanah Papua.
Dalam himbauannya, solidaritas mahasiswa menilai bahwa momentum 7 April menjadi titik penting untuk menyuarakan tuntutan, antara lain:
- Penutupan perusahaan yang dianggap mewakili kepentingan kapitalis
- Penghentian operasi militer di Papua
- Pemberian hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis
Dalam pernyataan tersebut juga disinggung sejarah masuknya Freeport ke Papua sejak penandatanganan kontrak karya pada 7 April 1967, yang dinilai dilakukan tanpa melibatkan masyarakat adat, khususnya suku Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat.
Selain itu, pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat 1969 (Pepera) turut disoroti sebagai proses yang dianggap penuh rekayasa dan tidak merepresentasikan seluruh rakyat Papua pada masa itu.
Mereka juga menilai bahwa berbagai kebijakan sejak integrasi Papua ke Indonesia pada 1963 telah berdampak pada kondisi sosial masyarakat, termasuk tingginya angka kemiskinan, rendahnya indeks pembangunan manusia, serta konflik yang menyebabkan pengungsian warga.
Lebih lanjut, Solidaritas pelajar dan mahasiswa menegaskan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan harus terus dilakukan melalui berbagai bentuk aksi kolektif.
Oleh karena itu, forum diskusi ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi bersama untuk menyatukan langkah dan strategi menjelang aksi nasional.
“Melalui pertemuan ini, kami mengajak seluruh komponen rakyat untuk bersama-sama membangun kesadaran dan memperkuat gerakan,” demikian bunyi himbauan dipetik media ini.
Kordinator aksi mengharapkan kehadiran aktif seluruh elemen masyarakat yang diundang agar diskusi dan konsolidasi berjalan maksimal.
Kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum mempererat solidaritas antar kelompok masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan di Papua.
(Yamenadi.com)


