-->
  • Jelajahi

    Copyright © YAMENADI.COM
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Pengikut

    Iklan

    Pendidikan Adalah Alat Pembebasan Bangsa Tertindas, Nyamuk Karunggu Luncurkan Buku Kelima

    Redaksi yamenadi.com
    Selasa, 24 Februari 2026, Februari 24, 2026 WIB Last Updated 2026-02-24T20:11:52Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Pendidikan Adalah Alat Pembebasan Bangsa Tertindas, Nyamuk Karunggu Luncurkan Buku Kelima

    Nduga, YAMENADI.COM – Penulis buku Nyamuk Karunggu resmi meluncurkan karya kelimanya yang berjudul “Pendidikan Adalah Alat Pembebasan Bangsa Tertindas” pada 22 Februari 2026. Buku tersebut ditujukan secara khusus kepada mahasiswa dan pelajar Papua Barat agar memaknai pendidikan sebagai sarana perjuangan dan pembebasan.


    Dalam pengantarnya, penulis mengutip pernyataan tokoh nasional Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.”


    Nyamuk Karunggu menyatakan bahwa judul buku tersebut sengaja dipilih agar mahasiswa dan pelajar Papua dapat menarik kesimpulan sesuai disiplin ilmu masing-masing.


    “Pendidikan memang bisa menjadi alat pembebasan bangsa tertindas. Bukan alat netral, melainkan alat politik yang aktif untuk memerangi ketidakadilan dan membebaskan manusia dari penindasan,” ujarnya.


    Ia menegaskan bahwa kaum intelektual Papua baik gubernur, bupati, wali kota, anggota legislatif, tokoh gereja, guru, dokter maupun petani memiliki tanggung jawab moral untuk berpihak kepada rakyat.


    “Senjata Anda adalah pangkat, gelar, dan profesi yang Anda miliki. Itu semua dapat menjadi alat untuk membebaskan bangsa Papua Barat,” tegasnya.


    Dalam buku tersebut, penulis juga merujuk pemikiran filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, melalui karyanya Pedagogy of the Oppressed. Freire menekankan bahwa pendidikan harus menjadi proses humanisasi dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar proses transfer pengetahuan satu arah.


    “Pendidikan yang membebaskan menolak sistem ‘gaya bank’ yang menganggap murid pasif. Pendidikan harus dialogis, membangun kesadaran kritis, serta mendorong perubahan sosial yang adil dan setara,” tulisnya dalam buku tersebut.


    Penulis juga mengisahkan pengalaman pribadinya yang mengaku harus mengungsi dari kampung halamannya di Yuguru akibat situasi konflik. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari refleksi yang melatarbelakangi penulisan buku ini.


    Buku “Pendidikan Adalah Alat Pembebasan Bangsa Tertindas” dipersembahkan untuk seluruh rakyat West Papua, khususnya generasi muda Suku Nduga. Ia menekankan bahwa perjuangan, menurut pandangannya, membutuhkan kesadaran, pengorbanan, dan peran aktif generasi terdidik.


    “Kemerdekaan tidak datang dengan sendirinya. Perlu perjuangan dan pengorbanan,” tulisnya.


    Peluncuran buku ini diharapkan menjadi ruang diskusi intelektual di kalangan mahasiswa dan pelajar Papua mengenai peran pendidikan dalam membangun kesadaran kritis serta memperjuangkan keadilan sosial.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Berita Papua

    +